Kolaborasi ini melibatkan kelompok masyarakat seperti Pusur Institute, AQUA, pemerintah Kabupaten Boyolali, dan pemerintah Kabupaten Klaten.

Sub-DAS Pusur merupakan anak sungai Bengawan Solo yang berada di tiga wilayah administrasi Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sukoharjo. Jarak dari hulu sampai hilir sungai Pusur sepanjang 36,8 km. Terdapat 49 desa yang berbatasan langsung dengan Sub-DAS Pusur, sehingga upaya keberlanjutan di sepanjang Sub-DAS Pusur turut melibatkan masyarakat desa.

Dalam pelaksanaannya, kolaborasi pengelolaan DAS ini telah menanam 141.041 pohon jenis mahoni, suren, sengon, cengkih, durian, kakao, kemudian membudidayakan 1.500 bibit kopi di Desa Sangup dan 2.000 bibit di Desa Mriyan sekaligus memfasilitasi produksi Kopi Merapi Lestari, serta mendukung pengembangan bisnis anggrek, teh lokal, jahe merah, dan jahe putih. Tanaman kopi dipilih tidak hanya untuk kepentingan konservasi dan lingkungan tapi juga turut berkontribusi terhadap perekonomian warga setempat.

“Sebenarnya masyarakat sedikit menghadapi dilema karena tanaman kopi, meskipun memiliki nilai ekonomi tinggi, tapi akhirnya menggerus sebagian lahan yang biasa ditanami sayuran. Jadi yang bisa dilakukan dari konservasi ini adalah menanam kopi di tepi-tepi ladang atau tanaman kopi sebagai pembatas lahan,” kata tokoh masyarakat Desa Mriyan Kecamatan Musuk, Suwandi, beberapa waktu lalu.

Meskipun dilematis, namun masyarakat sudah cukup peduli terhadap kebutuhan konservasi karena ini untuk kepentingan jangka panjang.

“Masyarakat di sini sudah merasakan manfaatnya, dalam beberapa tahun terakhir yang namanya bencana alam terutama tanah longsor, sudah jarang terjadi,” tutur dia.

Upaya konservasi lain adalah mengembangkan bisnis teh lokal, penanaman dan budidaya tanaman herbal seperti jahe merah dan jahe putih, serta mengenalkan jenis tanaman bernilai penting untuk konservasi dan juga pakan ternak yakni tanaman jenis indigofera.

“Nah untuk indigofera ini juga awalnya masyarakat banyak yang tidak tahu manfaatnya. Ternyata bisa untuk pakan ternak, ini sangat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Di Mriyan, sedikitnya ada 3.000-an tanaman indigofera yang dibudidayakan. Indigofera ditanam mengelilingi tanaman pangan terutama di daerah yang kemiringan. Indigofera diketahui mampu mencegah erosi tanah. Upaya konservasi oleh AQUA sejalan dengan pengembangan Kecamatan Konservasi Tamansari di Boyolali.

“Tamansari merupakan kawasan yang menjadi percontohan atau model bagi desa lain di sekitarnya dalam mengembangkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam aspek sosial dan lingkungan,” kata Stakeholders Relation Manager Pabrik AQUA Klaten Rama Zakaria.

Selain program konservasi DAS, AQUA Klaten juga menggagas infrastruktur pengelolaan air berkelanjutan.

Pada tahun 2016, pabrik AQUA Klaten bersama Fakultas Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membangun Embung Tirtamulya di Dukuh Pucang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Embung seluas 0,6 hektare dengan kedalaman lima meter ini mampu menampung air hujan hingga 10.000 meter kubik, sebagai sumber air bersih untuk sejumlah dusun di lereng Gunung Merapi.

Sementara itu, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan AQUA di Kabupaten Klaten adalah Water Access, Sanitation, and Hygiene (WASH) yang bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Surakarta. Program ini bertujuan melestarikan air tanah sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi layak. Melalui program ini, masyarakat sekitar tetap dapat memenuhi kebutuhan air bersih meskipun tinggal di kawasan sekitar perusahaan AMDK.

Secara nasional, program WASH AQUA telah berkontribusi bagi lebih dari 500.000 penerima manfaat. Melalui pengelolaan yang terintegrasi antara konservasi DAS dan program pemberdayaan masyarakat seperti WASH, AQUA Klaten tidak hanya menjaga keberlanjutan sumber air pegunungan, tetapi juga mendukung pertumbuhan perekonomian lokal melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, sekaligus membantu dalam mitigasi potensi bencana alam.